Pilih Laman

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL – QURAN
DENGAN METODE TSAQIFA

PADA SISWA SMK MUHAMMADIYAH 2 KARANGANYAR

Muhammad Aziz Qohhar

SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar

Jl. RW. Monginsidi, Tegalgede Kecamatan Karanganyar

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah Indonesia

PENDAHULUAN

Al-Quran mengandung berbagai isi seperti hukum, peraturan dan larangan, sehingga umat Islam hendaknya mempelajari isi Al-Quran untuk menjalani kehidupannya. Untuk mendalami isi Al-Qur’an bisa dilakukan dengan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu. Ketidakmampuan membaca Al-Qur’an dapat menyebabkan kesulitan untuk memahami isi Al-Qur’an bahkan berdampak seorang Islam gagal dalam mendapatkan petunjuk (Putri Aulia 2022).

Sebelum menelaah sebuah petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur’an tentu seseorang harus mampu terlebih dahulu untuk dapat membaca Al- Qur’an. Dapat membaca Al-Qur’an merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim karena membaca Al-Qur’an adalah bentuk ibadah seorang hamba. Perintah membaca Al-Qur’an terdapat dalam QSAlaq ayat 1. Ayat tersebut juga merupakan wahyu diterima oleh Rasulullah SAW pertama kali, yakni ayat 1-5. Pada ayat 1, sudah dijelaskan mengenai perintah membaca. Pada Tafsir Al-Misbah Menurut Quraish Shihab, “Membaca” dalam hal ini ialah membaca yang memerlukan teks serta tidak harus didengar oleh orang lain. Al-Qur’an harus dibaca dengan tartil. Tartil yaitu adalah dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf (Khotimah 2022). Membaca tartil bertujuan agar tidak salah membaca sehingga dapat mengubah arti bacaan dan kandungan dalam Al-Qur’an serta dapat mentadabburi dan meresapi kandungan didalamnya.

Menurut Imam al-Ghazali shalat yang dilakukan dengan kesadaran harus mengandung paling sedikitnya enam keadaan jiwa dan salah satunya yaitu pemahaman yang mendalam mengenai makna yang diucapkan sehingga terjadi keselerasian dan kesesuaian antara gerak dan ucapan lisan lahir dengan getaran perasaan batin [Akbar;Syaifa Pressindo. 2010]. Meski masyarakat Indonesia merupakan penduduk muslim terbanyak di dunia, mayoritas masyarakat Indonesia tidak fasih melafadzkan bahasa Arab yang merupakan bahasa Al- Qur’an itu sendiri. Sering kita temukan masyarakat dewasa yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Banyak di antara mereka yang baru ingin mempelajari Al-Qur’an setelah menginjak usia dewasa, namun beranggapan bahwa belajar membaca Al-Qur’an pada usia dewasa merupakan hal yang cukup sulit.

Berbagai metode bermunculan guna membantu seseorang dalam mempelajari Al-Qur’an, seperti metode Iqro, Qiroah dan Murojaah. Namun beberapa metode ini hanya memungkinkan bagi orang yang memiliki banyak waktu luang, misalnya metode Iqro yang memiliki 6 jilid, bagi anak-anak biasanya baru mampu menyelesaikan Iqro setelah 6 tahun belajar. Hal ini jelas bahwa metode tersebut sangat tidak memungkinkan bagi orang yang mememiliki banyak kesibukan. Maka dalam hal ini peneliti mencoba menawarkan metode Tsaqifa sebagai salah satu metode baru yang ditemukan Umar Taqwim

Pada prinsipnya belajar Al-Qur’an itu mudah, tidak susah dan tidak memerlukan waktu yang lama, hanya tiga tahapan yang harus dilewati. Pertama, mengenal 28 huruf hijaiyah dan perubahannya. Kedua, mengenal harakat [tanda baca] untuk huruf hijaiyah, dan Ketiga [membaca] sebanyak mungkin. Perlu diketahui bahwa didalam Al-Qur’an terkandung energy mukjizat yang supra rasional, artinya bayangan kesulitan dalam memahami atau sekedar belajar membaca saja, tidak perlu ditampilkan, bahkan harus dibuang jauh. karena Allah sendiri telah memberi jaminan kemudahan kepada siapa saja yang mau mempelajarinya, seperti yang tercantum dalam Surat Al-Qomar ayat 17 yang artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar adalah termasuk salah satu sekolah rujukan di Kabupaten Karanganyar, termasuk kategori sekolah dengan jumlah Siswa besar, dengan total Jumlah siswa kurang lebih 1.450 siswa. Diantara sekian banyak jumlah siswa, sebagaian besar mereka berasal dari keluarga menengah kebawah jika ditinjau dari segi ekonomi. Dari faktor latar belakang Pendidikan, agama orang tua dan anak berada pada tingkat awwam, dibuktikan bahwa masih terdapat banyak peserta didik yang belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Kelemahan tersebut dapat ditinjau dari kemampuan membaca, memahami hukum bacaan tajwid, kemampuan makharijul huruf.

Keadaan ini menjadi masalah tersendiri bagi penulis yang nota bene sebagai guru Agama dalam mengajar Al-Qur’an dan Bahasa Arab, sedangkan anak-anak belum bisa membaca Al-Qur’an. Sehingga ini menjadi dasar bagi penulis untuk mengadakan penelitian dan tindakan dengan harapan implementasi metode tsaqifa dapat meningkatkan kemampuan anak-anak dalam membaca Al-Qur’an.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak – anak tidak bisa membaca Al-Qur’an diantaranya karena memang faktor pendidikan agama dikeluarga yang minim keluarga juga tidak bisa membaca Al-Qur’an sehingga tidak bisa mengajari anak-anaknya dan juga tidak mengarahkan dan menyekolahkan anaknya belajar Al-Qur’an semisal di Lembaga TPA dimasjid atau rumah ustad didaerah masing-masing. Juga masalah yang lain bahwa anak-anak malu untuk belajar Al-Qur’an, karena sudah merasa  dewasa dan belum bisa Al-Qur’an akhirnya karena malunya justru akhirnya memutuskan untuk tidak belajar membaca Al-Qur’an.

Melihat permasalahan yang dijelaskan maka peneliti ingin mempelajari penerapan metode staqifa dengan model pembelajaran tutor sebaya untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran siswa di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar khususunya pada Siswa Kelas XI MPLB 4 SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar Tahun ajaran 2023/2024”.

untuk lengkapnya silahkan klik disini

Pin It on Pinterest